Isvy Nurul Hidayah
22 October 2016
1 Likes

Kulampaui Batas Ketakutanku Demi Keluarga

Sebagai anak sulung, aku harus bisa memenuhi kebutuhan keluargaku. Aku harus jadi anak yang bisa berguna dan diandalkan oleh ayah ibuku. Aku tidak pernah mengenyam bangku kuliah, aku hanya lulusan Sekolah Menangah Kejuruan jurusan desain grafis. Ditahun pertama kelulusanku, aku sempat bekerja selama 10 bulan disalah satu pecetakan kecil, tapi kemudian menganggur hingga berbulan-bulan. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk melamar pekerjaan melalui BKK sekolah disalah satu percetakan di daerah Jakarta Pusat. Disana aku ditraining selama 3 bulan. Gajiku belum besar, pas-pasan untuk hitungan hidup di ibukota. Apalagi aku hidup sendiri, ngekost dan membiayai semuanya sendiri. Dengan segala kebutaanku di Jakarta, aku nekat memutuskan untuk hidup sendiri disana. Ini semua aku lakukan untuk keluarga , lagi pun di Semarang sangat sulit mencari pekerjaan sesuai dengan keahlianku. Di bulan pertama, aku masih bisa hidup tenang karena masih memegang uang saku dari orang tua. Tapi selebihnya aku harus berjuang sendiri. Beradaptasi dengan lingkungan dan membiaskan hidup mandiri mengurus segalanya sendiri. Dibulan kedua aku baru benar-benar meraskan menderitanya jadi anak kost. Menghemat keuangan untuk kebutuhan satu bulan. Tidak bisa lagi semena-mena menghambur-hamburkan uang hanya untuk kesenangan. Menekan biaya pengeluaran demi keberlangsungan hidup di kota yang keras. Setiap belanja bulanan, pasti memilih barang yang harganya lebih murah. Menyetok mie instant yang banyak, walaupun memasaknya hanya diseduh dengan air panas dari dispenser  yang aku pinjam dari saudara yang tinggal di Bekasi. Bahkan suatu hari aku pernah hanya makan siang dengan ene*gen (minuman berseral) saja karena keuangan benar-benar benipis. Pada saat itu aku hanya bisa menangis, tapi ketika aku mengingat kalau itu semua aku lakukan untuk keluargaku, aku mencoba tegar dan berusaha terus berjuang. Itu semua pasti belum ada apa-apanya dibanding perjuangan kedua orang tuaku selama ini membesarkanku. Meski tidak mudah, namun dulu aku sangat menikmatinya. Aku cinta keluargaku.


Cerita Lainnya

Yoga Arif
21 October 2016 | 02:19
Senyum dari Papua

        Sebagai seorang sarjana pendidikan hal yang mutlak harus saya lakukan adalah mendidik, dan beruntung saya diberikan kesempatan…