Fajar Achmadi
22 October 2016
1 Likes

Cintaku Pada Atap-atap Dunia sama Seperti Cintamu kepada gelapnya perut Bumi..

Apa yang ada dibenak kalian jika mendengar kata ‘pendaki gunung’? Boleh jadi seorang lelaki dengan carrier besar, celana pdl, sepatu gunung, buff bercorak bunga atau sulur abstrak, windbreaker dan sarung tangan tebal, rambut acak-acakan yang terkesan kumal, dan kulit gelap khas terbakar Matahari.Aku adalah seseorang yang nantinya berprofesi tak dekat dengan alam. Tapi tak bisa kupungkiri aku memiliki ketertarikan terhadap alam. Ya, aku adalah seorang pendaki gunung dan merupakan Seorang Tour Guide dalam pendakian di beberapa gunung di indonesia..Aku tahu, kesan seorang pendaki gunung identik dengan kesan kotor dan urakan, tapi perlu kau ketahui wahai istriku, aku adalah seorang pendaki yang berbeda dengan image pendaki gunung seperti itu. Banyak diluar sana para pendaki yang masih  menjaga etikanya, kerapihannya, serta tata kramanya dan aku termasuk salah satu diantaranya.
Istriku...Jika kau hidup bersamaku, kesabaran dan kesetiaan adalah nilai utama yang aku tanamkan dalam hidup mu. Ya, aku tahu kau khawatir menungguku kembali. Tapi tahukah engkau? Saat aku bekerja, dan berada di puncak gunung, aku merasa sangat dekat dengan Tuhan. Perjalanan ini tak mudah, perlu proses yang panjang dan kerja keras dalam mencapainya. Tak bisa tetiba aku ada di puncak menikmati Mentari terbit dan terbenam yang sungguh elok memesona. Aku harus sabar dan menghargai setiap proses hingga aku dapat menikmati hasilnya. Aku juga belajar menjadi pribadi yang tak mudah menyerah menghadapi medan juang yang begitu berat. Prinsip inilah yang menjadikan tekadku kuat dalam menggapai puncak – puncak kehidupan. Menjejak di puncak adalah tujuan akhir dari perjalanan panjang nan melelahkan. Jika belum mencapainya, maka aku akan menjadikan ini sebagai hutang kepada para tamu yang harus dibayar. Puncak akan tetap diam dalam indahnya menunggu diriku. Layaknya Engkau yang Setia menungguku kembali..
Istriku.. Sama sepertimu yang mencintai gelapnya Goa dan segala keindahan isi perut bumi, bukan berarti aku tak punya tujuan dengan aku pergi mendaki. Justru para pendaki gunung adalah orang yang memiliki tujuan yang mantap dan jelas. Aku tidak memiliki istilah “Mengalir sajalah ikuti arus”. Sebagai seorang pendaki tak perlu kau cemas jika kelak aku menghabiskan hari – hariku di atap-atap Indonesia. Bukan maksudku ingin meninggalkanmu, tapi inilah salah satu caraku untuk mencari rizki yang menurutku Halal dan Barokah. Mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Tidak sehari dua hari aku pergi meninggalkanmu, bahkan mimpiku menaklukkan 7 puncak Indonesia bisa memakan waktu hingga 3 Bulan tak bertemu denganmu. Tak perlu kau khawatir. Aku telah menitipkan diriku dan dirimu pada Tuhan. Aku bertekad pada diri ini untuk kembali bersua denganmu.

Tak lupa aku menyelipkan namamu ketika berdoa di tanah tinggi ini. Aku menitipkan pesan kepada Tuhan bahwa aku telah tiba dan tak perlu engkau khawatir. Jikalau aku telah tiba kembali di titik awal pendakian, aku akan menghubungimu. Tak peduli selelah apa aku. Yang aku inginkan hanya mendengar suaramu. Mendengar celotehanmu. Mendengar ceritamu selama kutinggalkan. Ah, lelahku hilang tak berbekas karenanya.
Istriku..Janganlah lelah hidup bersamaku? Ditengah resiko  aku meregang nyawa dalam perjalanan? Ditengah resiko aku kehilangan bagian tubuhku saat mendaki? Maukah kau menungguku dengan setia? Sanggupkah kau sabar menantiku? Hanya satu yang dapat aku berikan. JANJI!!
Ya janji. Peganglah janjiku..  "Aku pergi untuk kembali"
Percayalah..

-FA-#LAMPAUIBATAS 


Cerita Lainnya

Erica Aulia Ananda
18 October 2016 | 14:03
Melakukan hal baik

Tulis ceritamu... Suatu hari aku dan teman temanku melakukan observasi penelitian padi di daerah kuningan aku kebagian…