Reyza Zamzamy
25 October 2016
0 Likes

Cuma Pengen Bikin Mama Bangga

Terlahir sebagai lelaki dan menjadi anak pertama di sebuah keluarga, merupakan sebuah tanggung jawab besar bagi saya. Dengan dasar tanggung jawab tersebut, ketika duduk di bangku SMA dulu, saya menetapkan mimpi luar biasa yang harus saya capai. Saya harus bisa mandiri dan bebas finansial dari orang tua sebelum usia 20 tahun.Mungkin mimpi tersebut terdengar sedikit sulit untuk dicapai, tapi saya ingin mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan yang saya miliki untuk #LampauiBatas diri saya demi meraih mimpi tersebut.Mimpi tersebut juga bukan sembarang mimpi. Saya mencanangkan mimpi tersebut dengan tujuan untuk membuat orang tua saya bangga, terutama Mama saya. Saya ingin menunjukkan bahwa anak laki-lakinya yang nomor satu ini sudah bisa hidup mandiri.Hanya dengan satu tujuan: membuat orang tua saya bangga. Saya bangkit lalu memulai perjuangan menggapai mimpi tersebut.Setelah lulus SMA, saya bukannya mencari info mengenai kampus, tetapi saya lebih giat untuk mencari info lowongan kerja. Dengan berbekal ilmu membuat surat lamaran yang saya dapat dari pelajaran Bahasa Indonesia ketika SMA, saya membuat banyak sekali surat lamaran dan menyebarkannya ke beberapa perusahaan.Long story short, setelah melalui berbagai macam tes dan panggilan interview, syukurlah saya bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan dengan mendapatkan gaji yang cukup.Ketika saya menuliskan cerita ini, usia saya masih 19 tahun. Dan saya mampu membuktikan kepada diri saya pribadi bahwa saya bisa #LampauiBatas diri saya dengan bisa mandiri dan bebas finansial dari orang tua. Suatu hari, ketika Mama saya memberi uang jajan bulanan seperti biasa, lalu saya menolaknya dan mengatakan kalau saya sudah bisa membiayai diri sendiri dari hasil bekerja. Beliau lalu berkata seraya mengusap kepala saya dengan lembut dan tersenyum,“Mama bangga, Nak, sama kamu.” Itu adalah kalimat yang saya nantikan sejak lama.


Cerita Lainnya

Novalisa
17 October 2016 | 08:08
Jatuh dari Ketinggian 100 Kaki

Bukan saya yang memaksa untuk pergi tapi mereka yang seolah-olah tidak mengenali. Bagai gulugan kertas diatas aspal…