Citra Permata Dewi
27 October 2016
1 Likes

Dibalik Kesulitan, Pasti Ada Kemudahan!

2005 silam, saya mengalami sakit yang akhirnya mengharuskan saya untuk menggunakan kursi roda sebagai alat bantu. Sedih, itu pasti. Usia saya waktu itu 17 tahun, sedang bersekolah di kelas 3 SMA. Karena harus dirawat selama beberapa bulan, saya pun tidak bisa menyelesaikan sekolah bersama teman-teman sebaya. Sembuh dari sakit, kondisi saya membaik, namun efek dari sakit Tubercolosis tulang belakang yang saya derita menyebabkan saya belum mampu berjalan, bahkan menggerakkan dan merasakan tubuh dari pusar hingga kaki. Walau demikian, di tahun ajaran baru selanjutnya, saya putuskan untuk kembali bersekolah. Sempat orang tua sangsi dengan keputusan ini, "Apa bisa kamu bersekolah dengan kondisi seperti ini? Dengan kursi roda?" Dalam hati, sebenarnya ada keraguan yang sama seperti yang orang tua saya pikirkan. Namun, keinginan dan rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan studi yang tinggal 1 tahun itu membuat saya memutuskan, " Ya. Saya harus sekolah lagi." 

Banyak rintangan yang harus saya lalui untuk menjalani keputusan ini. Salah satunya adalah belajar Bahasa Jepang dari nol. Sebelum sakit, saya adalah siswa kelas IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Karena kelas IPA berada di atas, yang artinya dengan kursi roda saya tidak bisa menjangkaunya, akhirnya saya dialihkan menjadi siswa kelas bahasa yang kelasnya berada di lantai bawah. Menjadi seorang siswa kelas bahasa harus mempelajari dan menguasai satu bahasa asing lain (selain Bahasa Inggris) sebagai mata pelajaran yang nantinya menentukan kelulusan. Bahasa Jepang jadi pilihan saya diatara bahasa asing lainnya. Teman-teman sekelas (yang notabenenya adik kelas) sudah belajar bahasa asing pilihan mereka sejak duduk di bangku 2 SMA. Sedangkan saya? Belum pernah sama sekali. 

Frustasi, minder, sedih sering saya rasakan di awal-awal proses belajar Bahasa Jepang. Ditambah lagi, kondisi saya yang masih dengan kursi roda. Nilai jelek pun, sering saya dapatkan. Rasanya terpuruk. Hingga saya sadar, tidak bisa terus-menerus di titik ini. Akhirnya saya putuskan untuk les privat Bahasa Jepang demi mengejar ketertinggalan. Sedikit demi sedikit, kontinyu hampir setiap hari, saya belajar mulai dari yang paling dasar. Kuncinya, rajin. Rajin menghafal. Rajin mengulang. Hasilnya? Setiap kali ujian, nilai saya beranjak naik. Dari yang awalnya hanya dapat 2, makin baik menjadi 6 hingga saya berhasil meraih angka 9 untuk ujian akhir Bahasa Jepang. "Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan!" Pencapaian ini adalah hal yang luar biasa untuk saya dan akan selalu saya ingat untuk memupuk semangat demi bisa meraih mimpi-mimpi selanjutnya, termasuk kesembuhan.


Cerita Lainnya

Fauziyah Rahmawati
26 October 2016 | 03:48
Keluarga kecil di Kota kecil

Saya perempuan yang lahir dan dibesarkan di Kota Bontang.Hidup dalam perekonomian keluarga yang tak menentu. Berpindah-pindah rumah…