Dyka Fadillah
27 October 2016
0 Likes

Ayah, sang penjaga senyum keluarga

Rasa-rasanya aku memang dibesarkan di keluarga yang biasa saja. Tidak ada hal yang begitu mewah meskipun tidak terlalu sering dihadapkan dengan kesulitan yang terkait dengan materi. Tapi aku merasakan sesuatu yang luar biasa justru datang dari pengorbanan ayah terhadap keluarga ini.Beberapa tahun lalu ayahku masih seorang karyawan di sebuah perusahaan yang berhubungan dengan bidang logistik, jasa pengiriman serta benda pos & filateli. Memang bukan pekerjaan yang wah, tapi cukup membuatku bangga. Menariknya, diperusahaan tersebutlah, ayahku yang ketika itu masih muda pertama kali bertemu dengan seorang wanita yang tidak lain adalah ibuku. Mereka menikah dan tetap bekerja di perusahaan yang sama meskipun berbeda bagian. Sedari kecil aku menyaksikan mereka berangkat bekerja bersama menggunakan sepeda motor dipagi hari & pulang ketika hampir malam dengan membawa makanan atau sekedar wajah lelah.  Rutinitas yang terjadi puluhan tahun inilah yang akhirnya membuatku menyadari bahwa sesungguhnya mereka adalah pasangan yang tidak terpisahkan dan banyak menghabiskan waktu bersama-sama dikondisi apapun. Namun, kebersamaan yang terjalin antara ayah dan ibu selama ini terganggu ketika 2 tahun lalu, ibu menderita sakit hipertensi & hampir terkena serangan stroke yang membuatnya harus melepas pekerjaannya serta berupaya menjalani perawatan di rumah dengan segala proses pengobatannya. Ketika itu memang terasa sulit bagi keluarga ini karena ibu memerlukan pendamping yang dapat menemani & membantu melakukan pengobatan dirumah sedangkan ayah dan aku harus tetap bekerja, ditambah lagi dengan kondisi bahwa satu-satunya kakak yang aku punya, tinggal dan bekerja diluar pulau jawa. Dengan situasi seperti itu, aku memberanikan diri mengatakan kepada mereka bahwa aku akan berhenti bekerja untuk merawat ibu dirumah namun dengan tegasnya, ayah melarang dan memutuskan bahwa dialah yang akan melepas pekerjaannya agar dapat bersama ibu dirumah untuk menemaninya menjalani pengobatan. Dibelakang ibu, aku dan ayah sempat berdebat mengenai hal ini. Aku bersikeras bahwa sebaiknya aku yang melepas pekerjaanku agar dapat merawat ibu sambil memikirkan usaha untuk berdagang, namun ayah tetap tidak mengizinkannya. Aku tidak dapat melawannya lagi ketika dia mengatakan “Masa depanmu masih perlu kamu perjuangkan sedangkan masa depan ayah dan ibu sudah kami dapat. Kamulah masa depan kami. Lanjutkan saja perjuangan kami !”.
Pada akhirnya aku sadar betul bahwa pengorbanan ayah untuk meninggalkan karirnya yang dipupuk selama berpuluh tahun merupakan harapannya untuk tetap mempertahankan senyum dari keluarga ini. Apa yang dia lakukan telah melampaui batas kemampuan dirinya yang selama ini aku kira.
Saat ini kondisi ibu membaik dan ayah masih berusaha membantu keluarga dengan menyibukkan diri berdagang benda filateli koleksi pribadinya secara online. Setiap hari ayah menyempatkan memfoto beberapa koleksi berharganya untuk dijual melalui akun facebooknya. Semoga dia tak pernah tahu bahwa beberapa benda koleksinya yang terjual, sebenarnya dibeli oleh anak-anaknya sendiri. Dan kami akan menjaga itu semua dengan baik, meskipun tak akan sebaik ayah menjaga senyum kami.

Terimakasih Ayah.


Cerita Lainnya

Anisah Widyastuti
21 October 2016 | 09:00
Tuliskan Impianmu,Tuhan mengabulkan dan semesta mendukungmu.

" Kapan nikah?" Siapa yang sering dapat pertanyaan seperti itu? Pegel dengernya, ya kan? Sama denganku. Tahun 2015…