lidha maul
28 October 2016
11 Likes

Meretas Kekakuan

"Jangan sombong sama orang", begitu kata Ibu saya, pun tebakan tidak seimbang yang dilontarkan sebagian orang ke saya. Bahwa saya sombong, kurang peduli dan cuek. Hal yang tidak mereka pahami bahwa saya menderita ketidaknyamanan yang tidak biasa kala menghadapi orang asing atau situasi sosial yang baru. Saya lebih banyak mengalami gugup dan berkeringat dingin. Adaptasi saya sangat lambat. Kadang saya merasa tidak normal. Selama masa remaja, belum pernah saya berbelanja sendiri ke warung dekat rumah atau nongkrong  bersama ABG lain di kampung atau ikut berkegiatan. Meskipun sering diundang.Tempat terbaik bagi saya adalah sekolah, bersama lingkaran pertemanan saya atau bersama tumpukan buku. Bukannya tidak bisa bergaul, saya hanya merasa sangat kaku. Susah sekali bagi saya menyapa seseorang lebih dahulu dan menarik bahan pembicaraan atau mengungkapkan pendapat. Dan percayalah ini: termasuk tersenyum pada orang lain."Mau kuliah di luar kota," itu jawaban saya ketika ditanya 'setelah lulus mau apa'. Agak menegangkan memang, saya yang hanya anak rumahan dan (dianggap) sukar berpisah dari orang tua, lalu berkeinginan me-#lampauibatas. Tapi itu benar, saya butuh menghela napas di tempat yang berbeda, saya butuh nyawa untuk sebagian diri saya yang terasa mati. Tidak semua orang memahami ini. Sebagian terasa rumit sekali diungkapkan. Jadi, saya hanya ingin menjalaninya saja, saya perlu jatuh untuk tahu rasanya bangkit, berani menikmati masalah dan jatuh cinta pada prosesnya.Saya pun kuliah di luar kota dan setelah lulus saya mencari pekerjaan sendiri, mengajar, mengisi suatu acara,  tidak malu untuk bertanya bila tidak tahu, berjumpa dengan orang-orang baru, traveling, ikut berbagai komunitas dan selalu mencoba apa saja yang bermanfaat untuk diri saya. Sekarang, sebagian masih mengenal saya sebagai si pendiam. Tapi itu tidak masalah. Toh, saya telah #lampauibatas dari apa yang seringkali  tidak saya sadari. Dan percayalah ini; hari ini saya lebih mudah menyapa seseorang dan memberinya senyuman lebih dulu.


Cerita Lainnya

Dwirany Dian Audry
19 October 2016 | 04:12
This is the meaning of true love, to give until it hurts...

Mengasihi seseorang yang rasanya tidak pantas dikasihi itu memang tidak mudah. Ceritanya dimulai saat aku masuk kuliah…