Tesa Rizki Aulia
29 October 2016
1 Likes

Air Mata dan Senyum yang Sederhana

Selamat pagi gerimis. Namaku Tesa. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Keluargaku memang keluarga kecil yang sederhana, tapi aku tumbuh dan berkembang dengan mimpi-mimpi yang tak pernah sederhana. Orangtuaku selalu mengajarkan untuk hidup dengan sebaik-baiknya hidup.Kala itu selepas lulus SMA, seringkali kudengar kata-kata remeh dari tetangga sekitar. Alasanya sangat sederhana, mimpiku hanya terlalu tinggi untuk keluarga sederhana ini, kata mereka. Memang. Rasa-rasanya hidup di lingkungan desa yang lumayan jauh dari pusat kota Jogja ini agak sulit menemukan orang yang memiliki mimpi setinggi langit.“Nggak udah didengarkan. Toh mereka tidak memberimu makan.” Setiap hari bahkan kudengar Bapak menyemangatiku dengan senyumnya yang penuh harap.Hingga tibalah suatu ketika kudengar “Yasudah. Sebisanya saja. Kalau tidak bisa ya cobalah untuk mencari kerja” ucap Bapak dengan nada yang tidak seperti biasanya.Sejak hari itu, diam-diam aku berjuang lebih keras. Masih terjaga ketika yang lain tidur. Dan bangun di pagi-pagi buta. Semata-mata untuk bisa melanjutkan sekolah yang tinggi di tengah kesederhanaan  ini. Mulai dari mencari informasi beasiswa-beasiswa yang bisa diupayakan. Mengumpulkan syarat-syarat pendaftaran, dan lain sebaigainya. Terkadang kuhabiskan waktuku seharian di Warnet untuk mempersiapkan diri sebelum hari tes masuk perguruan tinggi datang.Akhirnya, di suatu sore yang cukup cerah. Hari pengumuman tiba. Aku diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri impianku. Saat itu juga untuk pertama kalinya kulihat Bapak dan Ibuku meneteskan air matanya. Air mata dan senyum yang sederhana. Di hari itu, satu langkah kecilku lampaui batas untuk sedikit membalas senyum yang selama ini senantiasa kudapatkan dari mereka. Lalu, aku berjanji untuk selalu berani berjuang lampaui batas-batas cakrawala untuk sedikit demi sedikit membalas kasih sayang mereka, meskipun aku tahu tak ada yang bisa menandingi apa-apa yang telah mereka berikan kepadaku. Bapak, Ibu, terimakasih untuk semua yang telah kalian upayakan demi menjaga senyumku agar tak pudar.


Cerita Lainnya

Yuli Arinta
06 October 2016 | 21:25
Ibu yang Tinggal dI Rumah #LampauiBatas dengan menjadi Kreatif dan Bahagia

Pernahkah engkou berjalan lurus namun kemudian menemukan persimpanan jalan? Membuat pilihan dan kemudian mengambil keputusan adalah satu-satunya…