Ratih Mandalawangi
30 October 2016
10 Likes

Menyulut Batas Bahagia

Kakakku adalah seorang perempuan 19-an tahun. Di sekolah, dia dikenal sebagai anak yang lembut, dan terkesan sangat perempuan, karena selalu mengenakan rok dan kerudung panjang. Terkadang ada anak-anak yang mengejek suaranya yang sangat 'perempuan', dengan menirukannya. Dia memang terkesan sangat feminin.
Tapi, beda lagi kalau berada di rumah. Kami tinggal di sebuah kontrakan. Saat kemarau datang, kami harus mengangkut air dari sumur timba ke kamar mandi, sejauh 3 meter. Ayah dan Ibu yang sudah tua tentu kelelahan jika harus melakukan itu. Maka, dia yang selalu merebut tugas untuk mengerjakannya. Meskipun Ayah dan Ibu melarang. Dia akan menyingsingkan lengan baju, melipat ujung kerudung ke atas, dan mengenakan celana panjang. Lalu menimba di sumur sambil melebarkan kaki, mengeraskan otot-otot tangan. Mengisi ember dengan penuh lalu membawanya bolak balik untuk memenuhi bak kamar mandi. Apabila Ayah dan Ibu bersikeras melarang, kakakku akan berpura-pura menurut. Lalu, saat shubuh datang ia akan mengendap-endap ke sumur dan mengisi bak kamar mandi, sehingga ketika Ayah dan Ibu bangun mereka tidak usah repot lagi mengambil air. Begitu berbulan-bulan sampai tangannya kasar seperti tangan buruh bangunan. HahaTapi dia bilang itu menyenangkan! Dia senang melihat ada kelegaan terpancar di mata Ayah dan Ibu. Terlebih saat menyaksikan wajah segar mereka sehabis mandi dari air hasil angkutannya di pagi hari.
Bila persediaan minyak sudah habis dan kami terpaksa harus menggunakan tungku, dia yang akan merebut tugas untuk membelah kayu bakar. Dia mengayunkan golok atau kapak, menahan kayu bakar besar dengan sebelah kaki, dan memotongnya menjadi bagian-bagian kecil. Sampai potongan-potongan kayu bakar itu menggunung, cukup untuk persediaan berminggu-minggu. Di sekolah, dia tetap terlihat sebagai anak perempuan yang tidak tampak memiliki kekuatan. Aku curiga, apakah dia sebenarnya memang lemah? Tapi dia hanya berusaha lebih keras, barangkali. Ini tahun-tahun yang sulit bagi keluarga kami, memang. Rumah kami tergadai akibat bisnis Ayah yang meluncur tajam. Dan kami terpaksa harus tinggal di rumah kontrakan sementara waktu. Sambil membangun rumah sedikit demi sedikit di tanah yang baru.Saat musim membangun, kamipun sibuk dengan pekerjaan memasak di dapur bersama Ibu. Ayah dan tukang bas fokus bekerja di rangka bangunan. Tapi, terkadang kakakku pun ikut mengaduk semen, pasir, menjadi kenek. Tidak ada yang menyuruh. Dia hanya ingin membantu! Dia perempuan, dirinya tahu. Tapi ia sadar akan satu hal: dirinya tak terbatas. Ia dapat menjadi apapun yang dia mau untuk membangun kembali kebahagiaan kami yang nyaris runtuh beberapa tahun lalu. Dia yakin dia bisa melakukan hal besar suatu hari. Tapi, dia pun yakin, hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus dan terus menerus akan mewujud rangkaian maha besar yang manfaatnya dapat kami rasakan. Bahkan sepanjang hidup! Kini rumah baru kami telah tampak, meski masih separuh. Kami biasa pergi ke sana saat malam hari hanya untuk menyaksikan bintang bersama-sama sambil membuat api unggun kecil. Malam semacam itu adalah malam yang hangat. Ayah dan Ibu akan bercerita tentang berbagai hal sambil melengkungkan garis di bibir. Aku tahu mereka senang bukan karena apa yang mereka dapatkan dari kakak. Tapi lebih kepada apa yang mereka terima dari kasih sayang kakak. Dan kakakku tahu, meski kami kehilangan segalanya, kami tetap memiliki satu sama lain.


Cerita Lainnya

lidha maul
28 October 2016 | 16:59
Meretas Kekakuan

"Jangan sombong sama orang", begitu kata Ibu saya, pun tebakan tidak seimbang yang dilontarkan sebagian orang ke…