Anditara Sihotang
30 October 2016
2 Likes

Untuk Senyum Ayah Ibu, Ku Lampaui Batasku

Kemiskinan adalah pembatas yang sangat umum di negeri ini, lebih dari setengah penduduk pertiwi bergulat untuk keluar dari zona yang membelenggu kehidupan, menggerogoti kebahagiaan. Dari jutaan penduduk itu, keluargaku adalah salah satunya. Setelah Dagangan orangtua di pasar merugi akibat ibu yang sakit keras kala itu, ayah dan Ibu menjadi pedagang keliling. Keduanya tidak menyelesaikan pendidikan SMA, bahkan ijasah SMP pun tidak ada. Tetapi mereka selalu menekankan pada anak-anaknya untuk tetap bersekolah, setidaknya lulus SMA. Itu selalu membekas di sanubariku, bahwa aku harus berjuang. Anak pertama dan kedua lulus SMA dan tidak melanjut kuliah karna dana yang tidak ada. Aku sadar, bahwa saat ini seorang tamatan SMA sangat sulit memperoleh pekerjaan yang bisa menarik seseorang dari lumpur kemiskinan. Aku merencanakan startegiku yaitu mengumpulkan modal uang dengan bekerja setelah pulang sekolah. Kalian tahu apa yang aku kerjakan? Aku menenun ulos (kain adat Batak) yang seyogianya dilakukan wanita dewasa. Aku tak malu kala itu, buat apa malu memperjuangkan masa depan?. Setelah lulus SMA, aku mendaftar Ujian Saringan Masuk Perguruan Tinggi namun tahun pertama itu aku gagal, tidak lulus. Berhenti? Tidak!!! Aku berusaha sejauh itu bukan untuk berhenti. Dengan motivasi itu aku bekerja lagi selama setahun di toko bangunan dan berhasil mengumpulkan uang untuk bisa mengikuti Bimbingan Belajar masuk Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) yang sangat prospektif dapat mengeluarkanku dari belenggu kemiskinan. Niatku semakin gencar karena PTK ini 100% gratis uang kuliah. Aku belajar keras, berdoa dan dengan minta restu orangtua melangkah ke arena pertempuran ujian saringan masuk PTK itu. Sekarang di sini lah aku, menjadi Pegawai Negeri Sipil di salah satu Kementerian. Rintangan, Belenggu, Batasan akan selalu ada, asalkan bekerja dengan niat, berdoa dengan tulus dan termotivasi oleh senyum orang-orang yang kita cintai, kita bisa melampaui batas dan melangkah maju. Mari, kita kokohkan niat melampaui batas, sekokoh Semen Mortar Utama. Let’s break the limits.


Cerita Lainnya

Henny W Prasetyo
07 October 2016 | 07:13
Takut Naik Pesawat

Panggilannya izzhyo, anak saya ini baru umur 3 tahun , dalam usia masih anak anak pastinya tentu…