Yola Wulan Sari
31 October 2016
1 Likes

Anugrah terindah

Ketika semua harapan menjadi sirna, ketika semua hal menjadi pupuh. Pernah kah kamu menyalahkan hidup atas situasi dan kondisimu??Aku seorang wanita berusia 18 tahun, ketika aku kecil begitu banyak hal yang mengagumkan didiriku, saat kecil tak pernah aku menuhpahkan air mata karna dia, dia sosok pria tangguh yang selalu menjagaku. Saat kelas 3SD diapun pergi meninggalkanku, untuk pertama kalinya aku menangis karnanya. Dia pergi untuk selamanya, betapa rapuhnya aku yang masih kecil bahkan saat itu aku tak bisa melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Ketika itu ia meninggal di hari rabu dan kami dapat kabar hari sabtu, hanya makamnya yang bisa kulihat. Hidupku seakan kacau sampai suatu hari semua kekuarga pecah dan terpaksa kami pergi meninggalkan kota kelahiranku. Dulu aku hidup berkecukupan seakan semua hal kecil yang kuinginkan bisa terkabulkan. Sampai saat aku berjalan dewasa, dan kami kembali ke tanah kelahiranku. saat SMK ku sekolah seperti biasa hanya canda dan tawa. Namun, semua berubah ketika abangku berhenti kerja. Saat itu keluargaku menjadi hancur dan kacau, saat semua hal yang diperlukan hanya uang. Biaya sekolah, biaya kebutuhan makin membuatnya menjadi susah. Setelah tamatpun masih saja aku menjadi beban dikeluarga ini. Namun, ketika SMK aku pernah berpikir untuk melanjut kuliah namun sayang semuanya hanya impian. Aku harus kerja keras demi keluargaku. Aku benci abangku? Ia mungkin selalu begitu, ketika mama berusaha keras mencari nafkah bahkan sampai meminjam kesana mari demi keluarga. Dia? Dia hanya tau makan dan tidur bahkan sepeda motor satu-satunya dijual olehnya. Rasanya aku lelah akan kehidupan, pernah aku berpikir kalau saja bunuh diri gak dosa mungkin hal itu sudah aku lakukan. Aku harus kerja di tempat yang menyenangkan, awalnya begitu indah namun seiring waktu aku seperti bekerja di kantor dan jadi pembantu dirumahnya. Aku capek dan lelah, bahkan terkadang aku merasa jijik bahkan hampir muntah saat dirumahnya. Namun, aku gak tau harus gimana lagi asalkan pekerjaan itu halal dan mampu aku membantu keluargaku, aku lakukan. Setelah hampir 3bulan aku pindah kerja di restaurant. Itupun tidak berjalan lama hanya mampu sampai 3bulan. Kini aku terus mencari kerjaan baru, aku berharap suatu saat pintu hati abangku terbuka dan mau berkerja kembali. Hal menyenangkan ketika teman kerja hanya untuk menghilangkan rasa bosannya akupun pingin seperti mereka bekerja tanpa harus banting tulang demi keluarga mereka. Tapi aku berbeda, harus bekerja keras. Disaat aku mencari kerjaan, banyak masalah yang datang. Sampai akhirnya aku berpikir. Apa Allah tidak adil kepadaku? Namun kurasa aku salah, karna dulu aku di atas dan sekarang aku dibawah. Apa Allah kejam? Kemudian aku berpikir tidak, karna dalam keseharianku, aku masih bisa tertawa dan tersenyum. Apa mungkin Allah tidak mendengar doaku?? Terkadang aku berpikir juga salah. Karna Allah tidak pernah mendengar doa hambanya tapi ia memberikan apa yang hambanya butuhkan bukan yang ia perlukan. Berharap Allah memberikan jalan yang terbaik bagi hambanya. Hanya dia yang maha pengdengar, dan hanya dia tempat berkeluh kesah disaat semuanya hanya tahu, kamu itu beruntung. Namun aku memang beruntung masih diberikan seorang mama yang tulus menjagaku, aku beruntung karna mamaku gak seperti di tv yang meracuni atau membunuh anaknya hanya karna ekonomi. Setidaknya aku tidak menyesal terlahir seperti ini meskipun harus matiĀ²an demi keluargaku, karna aku punya Allah, mama, Almarhum ayah dan nenek yang jadi teman curhatku.. Seperti orang gila berbicara dalam hati dan menyimpan semua didalam hati. Tapi, aku merasa aku mampu makanya Allah masih memberikan aku kehidupan.


Cerita Lainnya

Munika Duri
08 October 2016 | 21:20
Anak Manja yang belajar bekerja

Lahir dari keluarga yang berkecukupan membuatku tak mengerti apa itu kerja keras, mungkin karena aku terbiasa dengan…