Dian Farida Ismyama
09 October 2016
8 Likes

#LampauiBatas dengan Melanjutkan Sekolah Meski sedang Berbadan Dua dan Memiliki Balita

Pernahkah saya #lampauibatas? Tentu saja pernah, saat ini apalagi. Saya sendiri tidak menyangka dapat #lampauibatas.

Memangnya apa yang saya lakukan hingga saya merasa telah #lampauibatas?

Oke, sebelumnya perkenalkan saya adalah ibu dua anak perempuan yang saat ini sedang melanjutkan S2 di UGM. Saya memutuskan untuk bersekolah lagi saat putri pertama saya sudah 3 tahun, yang artinya dia sudah disapih, dan komunikasi verbal dan motoriknya sudah bagus, sehingga dapat saya tinggal sesekali tanpa merasa takut anak tidak dapat mengungkapkan kemauannya atau apa yang dialaminya. Tapi siapa sangka, saat proses pendaftaran, justru saya hamil anak kedua. Saat itu suami berpikir untuk menunda sekolah dan fokus saja pada kehamilan dan persalinan. Tentu saja saya protes, terus kapan lanjut sekolahnya? Nanti setelah anak kedua besar, kalau hamil anak ketiga bagaimana? Lalu hamil anak keempat misalnya? Wah nggak lanjut-lanjut sekolah dong, hehe.

Akhirnya setelah diskusi yang panjang, suami membolehkan untuk tetap mendaftar S2, tentunya siap dengan segala konsekuensinya. Saya sih sudah mengerti secara teori risikonya, tetapi tetap saja saat mengalaminya ya kurang pede juga. Bahkan saya sendiri tak menyangka, bisa #lampauibatas kuliah hingga hamil besar 9 bulan menaiki tangga tiga lantai setiap tiga hari seminggu. Saya bisa #lampauibatas mengurus anak pertama sambil hamil besar tanpa suami (suami LDR di Jakarta) sembari menyelesaikan take home exam dan belajar untuk ujian. Siapa kira, saya bisa #lampauibatas sepuluh hari setelah melahirkan sectio caesaria langsung masuk kuliah dan presentasi jurnal. Rasanya tak percaya, saya bisa #lampauibatas tetap memberikan ASI dengan memerahnya selama sebulan PK (Pembelajaran Klinik) di salah satu rumah sakit di Surabaya. 

Saya merasa telah #lampauibatas dengan mengerjakan banyak hal sekaligus, antara lain berbisnis, kuliah pascasarjana, mengurus dua anak, menyusui, hingga tetap aktif ngeblog. Mungkin bagi perempuan muda yang single, multitasking itu hal yang mudah. Sedangkan bagi perempuan yang sudah punya anak dan tidak muda lagi, multitasking itu artinya telah #lampauibatas karena harus mempraktekkan manajemen waktu dengan membuat prioritas dan mendelegasikan hal-hal yang dapat diambil alih orang lain.

Sekalipun para ibu yang seperti saya terlihat hebat dapat #lampauibatas, tapi kami membutuhkan dukungan moral dari orang sekitar baik suami, keluarga besar dan teman-teman. Tak jarang, menjelang saya melahirkan, teman-teman sekelas saya dengan sigapnya membantu pengurusan dokumen ini itu, baik terkait ujian maupun PK. Tak jarang juga mereka merelakan saya tidak ikut kumpul membuat presentasi, hanya cukup mengirim bahan ke email saja misalnya. Saya sangat berterimakasih pada mereka yang memahami dan tidak menuntut banyak hal ke saya. 

Tahun depan, insyaallah semua orang akan tersenyum saat saya memakai toga, dan mereka mengingat bagaimana saya telah #lampauibatas selama dua tahun menempuh sekolah pascasarjana. Saya ingin ibu-ibu lain berani #lampauibatas melanjutkan pendidikannya, meski sembari mengurus anak dan keluarga, karena ibu yang berpendidikan adalah bekal bagi terciptanya generasi depan yang lebih baik. Semangat untuk semua ibu di Indonesia =)


Cerita Lainnya

Meli Yanti
31 October 2016 | 01:39
Sekali Kau Menjadi Petarung, Maka Kau Harus Berjuang Untuk Menang.

Saya hanya seorang Ibu rumah tangga dengan kehidupan yang nyaman, apalagi selama itu sang suami melalui usaha…