Umee Hariyati N
09 October 2016
25 Likes

Senyum Terakhir Nenek

Kring.. kring.. suara handphoneku berdering, terlihat dilayar tertulis mama memanggil. Tapi diseberang sana justru suara nenek lah yang kudengar, suaranya lirih menyiratkan betapa rindunya dia memintaku untuk segera bertemu. Sudah setahun lamanya aku tidak bertemu nenek. Semenjak menikah hingga sekarang aku hamil dan akan melahirkan kami belum pernah bertemu lagi. Masih ingat rasanya dulu sebelum aku menikah dan ikut suami diluar kota. Aku seringkali menghabiskan waktu bersama nenek. Kata orang-orang aku cucu kesayangannya. Teringat masa kecilku yang penuh ceria bersamanya. Tapi kini ia terbaring lemah di sebuah rumah sakit karena usianya yang sudah menua. Tak terasa mataku berair mengingat itu semua. Ingin rasanya terbang kesana menengoknya, memeluknya, bersenda gurau seperti saat kami masih bersama. Antara rindu, galau dan bimbang bersatu padu. Sementara waktu itu aku sedang hamil 9 bulan, beberapa minggu lagi akan melahirkan. Tapi entah mengapa hati kecilku mengatakan aku harus pulang. Rayuan demi rayuan kuberikan untuk suamiku agar ia memperbolehkanku menengok nenek. Bahkan dokter pun sedikit kupaksa untuk memberiku surat izin untuk terbang. Surat berharga yang akan memberiku izin untuk menaiki pesawat walau waktu itu usia kandunganku sudah masuk trisemester akhir. Disela-sela itu sempat ada drama kecil mewarnai keberangkatanku dan suami di bandara. Benar saja petugas yang hendak memeriksaku sempat tak mengijinkanku untuk terbang, untung ada surat ajaib itu. Akhirnya pihak bandara pun memperbolehkanku menaiki pesawat. Lega rasanya bertaruh dengan detik-detik dimana aku mengambil resiko besar di dalam hidup hanya demi ingin bertemu nenek. Dan akhirnya sampailah juga aku di kota ini, kota dimana aku dilahirkan dan menghabiskan seperempat hidupku disana. Ada rasa haru, lega dan sedih bisa bertemu nenek. Disana ia sempat mengusap perutku yang besar, melihat senyum bahagianya ketika bertemu denganku, memelukku dengan erat, dan menasehatiku seperti biasanya. Disana kusuapi nenek dan kupandangi wajahnya yang sudah makin menua. Ada rasa haru dan bahagia akhirnya bisa bertemu dengannya. Waktu pun berlalu dengan cepat memisahkan kami, sudah saatnya aku berpamitan dengannya. Nenek tersenyum dalam tangisnya. Berat rasanya untuk pulang. Entah kenapa aku seperti bisa merasakan kalau hari itu adalah saat terakhir bertemu dengan nenek. Senyumnya melepaskanku untuk kembali pulang. Bisa kurasakan kalau ia pun lega bisa bertemu denganku. Waktu itu kutitipkan juga doa agar persalinanku kelak lancar dan nenek juga bisa melihat cicitnya lahir.Selang satu minggu sejak aku kembali pulang, ada kabar duka nenek telah berpulang selamanya. Walaupun saat itu aku tidak bisa melihat dan menemaninya untuk terakhir kalinya. Tapi ada rasa lega sudah bisa bertemu dengannya untuk yang terakhir kali. Walaupun waktu itu penuh resiko dan pengorbanan yang harus kujalani tapi demi senyum terakhir nenek, aku ikhlas dan yakin menjalaninya. Kini usia si kecil sudah satu tahun nek, cicitmu ini lucu dan tumbuh ceria seperti saat masa kecilku dulu bersamamu. Walaupun nenek sudah tak ada lagi disini, tapi aku percaya nenek pasti tersenyum melihat kami bahagia disini. Selamat tinggal nek, tenang dan damailah disana ????


Cerita Lainnya

Adinda Rachmasari
17 October 2016 | 23:26
Cewe bisa kok jadi Ketua!

Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu Politeknik di Jakarta. Sebagai mahasiswa, aku aktif dalam berorganisasi. Setelah…