Rani Yulianty
10 October 2016
10 Likes

#LampauiBatas dengan Membonceng Dua Balita di Motor Demi Melihat Senyum Mereka Setiap Hari

Mendung yang menggelayuti kota Bandung akhir-akhir ini sering membuat saya galau. Kegalauan seorang ibu yang mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya di jalan. Jika mendung berarti hujan akan turun. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang masih balita jika harus kehujanan di jalan saat dibonceng motor. Itulah sekelumit kisah mendung di akhir tahun yang sedang saya resapi. Sejak dua bulan yang lalu, saya memutuskan membawa si kecil yang berusia satu tahun ke Bandung. Saat berusia 6 bulan, gadis kecil Bunda ini terpaksa dititipkan ke orangtua di Sukabumi. Sangat terpaksa kembali karena di Bandung saya tidak memiliki pengasuh. Sementara saya masih memilih menjadi ibu bekerja di luar rumah. Saya juga belum tega menitipkannya ke daycare karena usianya masih sangat kecil, sangat rentan jika harus setiap hari digendong saat saya mengendarai motor. Si sulung yang berusia 3,5 tahun memang sudah sekolah dan lanjut di daycare sampai saya pulang kantor.
Hati kecil saya sering menangis karena harus terpisah dari anak yang saya sayangi. Saya menyayangi keduanya. Saya ingin kami berkumpul bersama, hingga saya pun memutuskan membawanya kembali ke Bandung. Risikonya, saya harus membawanya setiap hari ke daycare dengan mengendarai motor. Bukanlah hal yang mudah bagi saya. Bahkan, saat saya hanya membonceng si sulung pun saya sering kesulitan. Sebagai perempuan tentu kemampuan saya dalam mengontrol kendaraan sepeda motor berbeda dengan laki-laki. Tenaga saya pun terbatas. Apalagi jarak antara rumah dan kantor cukup jauh. Ditambah pula sekarang sedang ada pembangunan jalan layang sehingga membuat arus kendaraan semakin macet karena diberlakukannya dua jalur kendaraan. Sebelumnya, jalur ke kantor saya hanya satu jalur. Namun, untuk memecah kemacetan di wilayah sekitar pembangunan jembatan, pemerintah pun memberlakukan dua jalur kendaraan. Tentunya hal tersebut menambah kesulitan saya dalam berkendaraan. Saya selalu berdoa sepanjang jalan agar Allah Swt. Yang Maha Pengasih dan Penyayang memberi perlindungan kepada dua titipan-Nya tersebut. Saya yakin, Allah Swt. Maha Pemilik akan melindungi semua milik-Nya. Hingga suatu saat saya pernah jatuh di jalanan saat membonceng dua balita. Padahal saat itu, si kecil sedang panas. Tapi saya tetap harus membawanya ke daycare karena saya punya kewajiban bekerja di kantor. Saya sudah tidak bisa izin karena sudah terlalu banyak izin. Maaf ya, Pak Bos. Namun, ternyata di tengah kesulitan yang sedang saya hadapi, saya bahagia bisa mleihat senyum dua buah hati setiap hari. Menitipkan anak-anak kepada orang tua memang sepertinya pilihan yang praktis buat saya. Namun, saya kehilangan senyum kedua buah hati saya. Oleh karena itu, saya melampaui batas saya sebagai seorang pengendara sepeda motor dengan membonceng dua balita setiap hari demi melihat senyum mereka. Senyum dan tawa mereka yang selalu lepas setiap sore membuat letih saya seharian hilang. Tangisan dan kerewelan mereka mengajarkan saya untuk lebih bersabar. Dengan keberadaan mereka di samping saya, telah membuat saya mau belajar lagi tentang kehidupan. Setidaknya, saya diajarkan untuk menata hati dan mengendalikan emosi. Oleh karena itu, bagi saya, untuk bisa melihat senyum dan tawa mereka setiap hari, saya bisa lampaui batas.


Cerita Lainnya

Ranny Afandi
30 October 2016 | 14:42
#LampauiBatas Demi Kesembuhan Mama

Setahun lalu...Saat itu, saya tengah hamil 7 bulan. Selesai pulang dari nikah sepupu, mama, cici dan saya…