Juliastri Sn
15 October 2016
1 Likes

Keluar Dari Zona Nyaman Dan Bersahabat Dengan Ketidakpastian


Siapa yang mau keluar dari zona nyaman dan bersahabat dengan ketidakpastian? Tentu kalau boleh memilih, berada di zona nyaman yang pasti adalah pilihan. Namun, demi mencapai suatu tujuan sesuai dengan passion, saya dan suami nekad resign dari pekerjaan sebagai karyawan tetap di perusahaan masing-masing.
Demi apa ? Demi waktu yang lebih banyak untuk merawat dan mendidik anak. Demi kesejahteraan keluarga. Demi bermanfaat bagi orang lain. Demi pendapatan  financial  yang tak terbatas. Yup, kami buka usaha bersama. Dengan modal materi yang minim. Dengan pengetahuan tentang bisnis yang terbatas. Dengan memulai dari apa yang kami punya. Dengan lokasi usaha yang sama sekali asing. Seperti orang asing yang memulai usaha di tempat asing. Kami mbabat alas. Kami belajar adaptasi. Dari penghasilan semula yang teratur setiap bulan saat menjadi karyawan,  menjadi  tidak pasti setiap harinya saat buka usaha sendiri. Menurunkan standart hidup dari yang biasanya ada AC di mess menjadi Angin Cendela yang sepi-sepoi di rumah pedesaan.   Kami  belajar tentang hal baru. Memulai hidup baru.  Dari yang terbiasa melaksanakan instruksi bos, sekarang harus mengambil keputusan sendiri. Mempelajari  product knowledge yang sama sekali baru. Belajar memasarkan dan menganalisa pasar. Belajar memanage keuangan, admisnistrasi, mencari supplier dan mengajari karyawan. Dulu, kami  merasa sedih saat anak sakit tak bisa menemani karena harus bekerja demi orang lain. Dulu, saat menjadi karyawan kami merasa waktu dan penghasilan sangat terbatas untuk berkumpul bersama keluarga. Sekarang, kami bisa setiap hari bertemu dengan anak‚Äďanak kami. Karena rumah dan tempat usaha kami satu atap. Kami bebas bekerja sambil mendidik anak. Kami bisa memutuskan kapan saat piknik bersama tanpa harus mengajukan cuti, tinggal tutup toko saja. Yeah, selama 7 tahun ini kami sudah berani lampaui batas yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Ternyata selalu ada jalan jika kami berani untuk memulai perubahan dengan tekad. Dan, kami percaya keajaiban itu memang ada!  


Cerita Lainnya

Sarah Ara Qodriyani
25 October 2016 | 22:39
Aku dan Tuberkulosis

Halo, namaku Sarah. Aku seorang mahasiswi berumur 20 tahun. Pada tahun 2014 lalu, aku dinyatakan mengidap penyakit…