Atiqo
06 October 2016
1 Likes

#LampauiBatas dengan Menyempurnakan Hijab

            Langit semerbak, memancarkan sinar jingganya. Belum genap diri ini menikmati sore dengan secangkir teh hangat. Sebagai penawar kedinginan hati. Sore itu ada sebongkah es yang menyelinap masuk melalui celah-celah empedu, terus menjalar naik hingga ulu hati. Keenganan jelas terpancar dari raut wajah. Berat sekali permintaanya. Ditengah-tengah kesibukan mengurus si kecil, ingin rasanya menghirup udara sejenak dengan mencuci mata. Sulitkah? Tapi yang kudaptkan adalah kekecewaan lagi,lagi dan lagi.             Kapankah aku didengar? Kapankan aku dimengerti? Masihkah ada harapan untuk bertahan? Ditengah tumpukan deadline dan lomba-lomba blog berjejaran, ternyata ada yang tidak ikhlas. Ada yang tidak rela aku bergulat dalam dunia ini. Dunia kepenulisan. Benarkah ia tidak rela? Apa penyebabnya? Kenapa?             Deretan pertanyaan panjang itu hanya sampai di kerongkongan. Nyatanya aku tidak punya nyali dihadapannya. Keberanian itu tiba-tiba lenyap dihadang berbagai kemungkinan yang hanya ada di otak. Aku mencoba #LampauiBatas dengan menjalankan triple activities. Ibu, istri dan wanita karir yang semuannya dikerjakan dari rumah. Memang belum ada hasil yang bisa dinikmati tapi mimpi itu terus kupupuk dan kurawat. Hingga senja itu .... “Aku tidak ikhlas kamu menulis dan menjadi penulis!” akhirnya semua tanya terjawab. Ternyata buntunya otak ini saat merancang berbagai outline untuk dikirim ke berbagai lomba adalah ada seseorang di belakang saya yang tidak ikhlas. Tidak rela melihat saya menatap layar laptop seharian. “Kenapa?” ada perih yang coba kutahan. Mimpi yang selama ini kurawat, serta merta ditentang oleh suami. Orang yang selalu kupatuhi perintahnya.             “Pakailah jilbab saat berada di teras rumah. Mulailah dari yang terkecil kalau tidak bisa langsung. Saya hanya memberi saran tapi semua kembali kepadamu. Lebih memilih mana panasnya dunia atau panasnya api neraka?” akupun tertunduk lesu. Mengutuki diri yang terlalu muluk-muluk mempunyai impian dan khayalan. Bahwa aku hanya pandai berteori tapi melupakan praktekknya, itu kenyataan tragis.             Tak puas dengan jawaban suami, mbah google meyakinkanku untuk segera hijrah. Dari kebodohan menuju ke keberkahan dengan mematuhi perintahNya. Benarlah kiranya bahwa aurat wanita itu hanya boleh terlihat oleh mahromnya. Surat An-Nur: 31 dan surat An-Nisa: 23 saling melengkapi. Di dalam surat tersebut ada 17 orang yang bisa disebut mahrom oleh wanita muslimah, mereka adalah:Suami
a     Ayah kandung 3.      Ayah suami (Bapak mertua)4.      Putra-putra (anak kandung)5.      Putra-putra suami (anak tiri)6.      Saudara lelaki kandung 7.      Putra-putra saudara lelaki (keponakan lelaki)8.      Putra-putra saudara perempuan (keponakan lelaki) 9.      Om/paman 1    Anak susuan 1    Saudara lelaki sepersusuan 1    Menantu lelaki 1    Ayah tiri 1    Budak-budak 1    Wanita-wanita islam 1    Anak-anak yang belum mengerti tentang aurot wanita. 1    Pelayan-pelayan lelaki yang tidak punya keinginan terhadap wanita (orang gila, autis, orang impoten)
Terlihat sepele sepertinya, tapi mempunyai dampak yang besar. Meski kalau berpergian aku selalu menggunakan jilbab. Belum sempurnalah diri ini jika di teras rumah saja enggan menggunakan jilbab. Akhirnya aku tahu bahwa suami ingin menjadikan istrinya, seorang wanita yang #LampauiBatas dengan merubah hal-hal kecil yang sering disepelekan. Tetap saja panasnya api neraka tidak bisa di nego dengan “Cuma di teras saja kok, Yakin tidak ada orang melihat, Siapa juga yang mau lihat wanita dengan pakaian daster.” Dan serentetan alasan yang membuatku seolah-olah menang, dan semakin menunjukkan kebodohan.              Bismillahirohmanirrohim, mulai saat ini aku meng-azzamkan diri untuk mulai menyempurnakan hijab, me#LampauiBatas yang dulunya saya enggan untuk berhijab di teras rumah. Sebagai bentuk penghambaan kepada Alloh Azza wajala dan juga sebagai istri yang dosanya ditanggung oleh suami. Tidak muluk-muluk merubah orang lain dalam untaian aksara yang indah. Mulai diri sendiri agar tidak hanya pandai beretorika tapi nihil pelaksanaanya.             Pun sebagai ibu, saya juga harus bisa menjadi teladan bagi si kecil. Mengajarkan hal-hal islami yang sesuai syar’i. Mengelilinginya dengan berbagai macam cerita dan hikmah teladan para Nabi dan para sahabat nabi. Sehingga kelak ketika remaja, dia sudah tahu bahwa hijab adalah kewajiban bagi muslimah. Tidak hanya waktu berpergian saja, lebih dari itu. Dimana saja dan kapan saja saat tak bersama dengan mahromnya, hijab wajib dia kenakan.             Cerita #LampauiBatas ini juga sebagai reminder bagi diri ini untuk berpegang teguh pada sebuah janji. Janji kepada Alloh SWT sebagai haamba yang menaati perintahNya dengan segala keadaan. Terima kasih juga kepada suami, untuk semua sentilan-sentilan halusnya. Aku yakin beliau bersikap begitu karena meamang begitulah kewajiban suami. Menuntun istrinya untuk sama-sama menapaki jalan ridho-Nya. Hingga kelak dipertemukan kembali ke Jannah-Nya. Amin ya robbal alamin.


Cerita Lainnya

Hendri Henry
20 October 2016 | 10:31
Pilihanmu menentukan masa depanmu

Entah sudah berapa kali saya berganti pekerjaan tanpa ada kepastian setelah kontrak kerja . Setelah hampirt 2…