Kevin Attar Abraari
19 October 2016
1 Likes

Beda adalah berani dengan #lampauibatas yang kita bisa

Salah satu yang ditakuti oleh seseorang adalah beda, tetapi kadang yang diinginkan oleh orang juga beda. Saya punya teman, dia adalah fans fanatik sebuah band terkenal dari kota Bandung, tepatnya band dari Antapani. Dia mengajakku untuk bermain band, aku terima saja tawaran itu. Dia selalu mengarahkan aku untuk menyamai aransemen musik, saat kumpul band kita pun dia selalu membicarakan band itu dan mengagung-agungkan band tersebut. Dia membuat lagu yang hampir mirip dengan salah satu lagu dari band itu kata-katanya pun tidak nyambung dengan apa yang dijabarkan maksudnya. Sempat saya memprotes lembut ubah nadanya dan liriknya, dia tetap tidak mau merubahnya. Dia seolah-olah menjadi frontman dari band kita padahal yang menjadi volalisnya bukan di tapi saya, dia diposisi drumer, otomatis dia yang harus mengikuti zona nyaman saya bukan dia yang harus saya ikuti. Dan juga saat saya mengarang lagu, belum mendengar dengan penuh lagu yang saya presentasikan, dia dengan seenaknya mengubah aransemen yang sudah saya buat, padahal lagu yang saya buat itu pernah membuat teman saya menangis karena nadanya yang lembut dan tidak akan mengubahnya lagi karena sudah dikenal. Saya bertekad untuk membeberkan apa yang ada dalam hati saya dan pembicaraan orang lain tentang dia. Disaat saya mengetahui semuanya ternya pemikiran mereka sama seperti saya terlalu mengagung-agungkan band yang dia sukai dan selalu menirukan dan membawa-bawa ciri khas dari salah satu personil band itu saat kumpul dengan band dengan temannya dulu. Saya orangnya tidak suka dengan teman yang sangan fanatisme, saya memutuskan untuk keluar dari band, saya harus #lampauibatas, saya tidak pernah mendengarkan ocehan dari orang yang kata-katanya tidak bermakna karena itu adalah hampelas kasar, semakin sering saya menemukannya lalu tergores, semakin bagus pula teksturnya. Saya selalu berpikir apa yang harus saya lakukan, dan terpikirlah suatu gagasan tekad saya untuk menjadi seorang panulis buku, tanpa bantuan mentor, saya menulis buku tentan kajian Antropologi yang dikaitkan dengan hubungan cinta remaja dan menjadi sebuah cerita. Saat saya menanyakan sesuatu kepada guru antropologi saya di SMA, diakhir saat guruku menjelaskan semua jawaban, dia bertanya “tumben udah lulus nanya masalah pelajaran” lalu saya menjawab “saya sedang menulis buku tentang kajian Antropologi dengan hubungan cinta remaja” dan guruku itu tidak menyangka bahwa saya akan menerbitkan buku. Dan saat saya datang ke sekolah SMA saya, guru-guru banyak yang menannyakan, “kamu kuliah atau kerja” lalu saya menjawab “kerja bu..” guruku bertanya lagi “kerja apa? Dimana?” saya menjawab dengan percaya diri “jadi penulis buku, kerjanya dirumah saja bu...”. Dan saat itulah saya mulain menulis dan banyak juga yang memberi saya motivasi dan dorongan kuat untuk terus menulis. Dari dunia musik saya harus #lampauibatas untuk menjadi seorang penulis.


Cerita Lainnya

Arifah Wulansari
12 October 2016 | 06:41
Saat Batas Benci dan Gengsi Terlampaui

Saya pernah benci sama bapak. Karena bapak udah ninggalin saya dan ibu demi menikah dgn wanita lain.…